Benang Merah Masyarakat Pribumi dan Tionghoa di Soekaboemi Tempoe Doeloe

- 11 Juni 2024, 18:50 WIB
Museum Tionghoa Soekaboemi.terletak di Jalan Pejagalan, Danalaga Square Blok 1 No. 122 Odeon, Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Museum Tionghoa Soekaboemi.terletak di Jalan Pejagalan, Danalaga Square Blok 1 No. 122 Odeon, Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat. /Portal Bandung Timur/Fauzan Nalal Murom/

PORTAL BANDUNG TIMUR - Perjalanan panjang antara kaum pribumi dan masyarakat Tionghoa di Sukabumi telah terjalin kian abad lamanya. Kini, momen sejarah panjang itu telah diabadikan menjadi Museum Tionghoa Soekaboemi. Singgahlah ke Museum ini kalau ingin tahu kehidupan masa lalu Tionghoa di Sukabumi.

Museum yang didirikan 22 Februari 2022 ini, tampaknya menjadi ikon baru di Kota Sukabumi. Selain tiket masuknya yang aman di kantong, lokasinya juga sangat stategis dekat dari balai kota dan stasiun kereta api.  Museum Tionghoa Soekaboemi.terletak di Jalan Pejagalan, Danalaga Square Blok 1 No. 122 Odeon, Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Museum ini buka setiap hari kecuali hari Jumat dan libur panjang. “Biasanya suka ramai, karena baru buka habis libur lebaran, jadi suasananya seperti ini” ujar Ambu pemandu museum. Sebelum melangkah menuju pintu masuk, sudah terasa suasana ala-ala Tionghoa dengan bangunannya yang serba merah dilengkapi lampion-lampion yang bergelantungan.

Baca Juga: Museum Bale Panyawangan Diorama Nusantara Menghidupkan Warisan Nusantara dengan Teknologi Modern

Jika berbalik badan dari pintu masuk, akan terlihat kemegahan Vihara Wisma Widhi Sakti yang usianya hampir satu abad. Sehingga menambah suasana serasa betul-betul berada di Negeri Tirai Bambu.

Bangunan museum Tionghoa memiliki empat lantai, yang setiap lantainya memiliki keunikan sendiri. Pada lantai pertama terdapat dua ruangan, yaitu ruang depan yang merupakan area lobi, serta ruang dalam dan balkon tempat pamer koleksi antik masyarakat Tionghoa. Walaupun bangunannya baru, tapi material pada lantainya menggunakan keramik asli produksi masyarakat Tionghoa. “Bisa dilihat, ini keramiknya juga asli milik orang-orang Tionghoa, asli ya, bukan replika” jelas Ambu.

Naiklah ke lantai dua untuk menelusuri lebih lanjut kehidupan masyarakat Tionghoa di Sukabumi. Di lantai ini dipamerkan peralatan rumah tangga, alat komunikasi, alat tukar berupa koin dan kertas, hingga emas khas Tionghoa dengan bentuk perahu.

Baca Juga: Menilik Musholah dalam Sebuah Klenteng Pan Kho Bio sebagai Simbol Toleransi Antarumat Beragama

Di sudut ruangan arah barat ditata kursi dan meja yang menggambarkan tempat kumpul keluarga dan minum teh, Ambu menjelaskan “Jadi ini adalah ruang keluarga, mereka biasanya minum the disini”. Disudut berlawanan terdapat altar ibadah, “disini juga ada altar tempat ibadah, jadi orang-orang kaya dulu punya altar sendiri” lanjut ambu.

Belum selesai disitu, masih ada lantai tiga dan empat yang harus dijelajahi. Di lantai tersebut tempat dipamerkannya koleksi Galeri Dapuran Kipahare. Ada banyak arsip sejarah Sukabumi yang disimpan disini. Mulai dari arsip kehutatanan, perkebunan, perdagangan, militer,hingga peta kota Sukabumi tempoe doeloe. Dipamerkan juga hasil buruan koloni baik jenis reptile maupun mamalia.

Halaman:

Editor: Heriyanto Retno


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah