Melancong ke Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi

- 18 Oktober 2020, 10:36 WIB

PORTAL BANDUNG TIMUR.-

FENOMENA yang cukup menarik dan menjanjikan diawal dekade tahun 2000 adalah sebuah ‘gerakan’ yang secara serentak menjadi tren, yaitu gerakan Cinta Tanah Air. Lebih menarik lagi gerakan ini lahir tidak datang dari propaganda atau himbauan pemerintah, malah muncul dan berkembang secara sporadis dalam masyarakat serta kalangan muda.

Kecintaan terhadap tanah air dimunculkan melalui atribut-atribut ataupun slogan-slogan, seperti misalnya; T-shirt dengan lambang negara, batik berjamaah, atau Aku cinta Indonesia, dan lain-lainnya. Menyenangkan serta menjanjikan sekali apabila fenomena yang lahir, tumbuh dan kembang dari masyarakat.

Kita seakan-akan diingatkan untuk menghargai sejarah dan budaya tanah air yang hampir tergeser oleh keberadaan budaya impor, maka dengan serta merta seluruh kawula muda pelosok negeri ini menggemakan ‘rasa’ cinta tanah air dalam bentuk kreatifitasnya, maka bergetarlah Negeri gemah ripah loh jinawi ini dalam ingar-bingar Nasionalisme

Baca Juga: Proses Pembuatan Aplikasi Yang Kita Gunakan Sehari-hari

Dalam ranah seni budaya sebetulnya sudah lama para seniman dan budayawan yang konsisten berkarya dan berbicara mengenai cinta tanah air dalam profesinya, baik dari kalangan yang tua maupun muda.

Sebut saja beberapa tokoh dan seniman diantaranya penyair Taufik Ismail, penyair dan cerpenis muda Chairil Gibran Ramadhan, dari seni musik ada Leo Kristi, Iwan Fals, dan dari seni tari ada Bagong Kussudiardjo, Boy G. Sakti, dari senirupa; Basuki Abdullah, Herry Dim, serta banyak lagi para seniman yang berkarya dalam bidangnya membicarakan tentang cinta tanah air dalam tafsiran karya seninya.

Karya seni yang lebih kentara dan lebih dikenal serta bisa dinikmati oleh khalayak secara luas adalah Sinema; karya film.

Baca Juga: Proyek KCIC Jadi Penyebab ? Sampah dan Genangan Air Rancaekek Kulon

Sejak lepas tahun 2005 film-film bertemakan Nasionalisme ini lebih banyak bermunculan, diawali oleh Film Gie (2005), Denias, Senandung di Awan (2006), King (2009), Tanah Air Beta (2010), Garuda Di Dadaku (2009), Trilogi Merdeka (2009 – 2011), Serdadu Kumbang (2011),  Batas (2011). Tanah Surga... Katanya (2012), Atambua 39⁰ Celcius, 5 Cm (2012), Habibie & Ainun (2013), 9 Summers, 10 Autumns (2013), Mursala (2013), Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Soekarno (2014), Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), 3 Srikandi (2016), Kartini (2017), dan lainnya.

Halaman:

Editor: Agus Safari


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Melancong ke Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi

18 Oktober 2020, 10:36 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X