Batik Gutha Tamarin Mulai Dilirik

- 10 Desember 2020, 13:30 WIB
SEJUMLAH perserta Workshop Batik Gutha Tamarin dalam rangkaian Pameran seni rupa ‘Re-BUNG’ melakukan praktek langsung pembuatan desain batik bertempat di Thee Huis Gallery Taman Budaya Jawa Barat.
SEJUMLAH perserta Workshop Batik Gutha Tamarin dalam rangkaian Pameran seni rupa ‘Re-BUNG’ melakukan praktek langsung pembuatan desain batik bertempat di Thee Huis Gallery Taman Budaya Jawa Barat. /Portal Bandung Timur/Heriyanto Retno/

PORTAL BANDUNG TIMUR - Potensi kain batik sebagai budaya tradisional belum mampu mengangkat kearifan budaya lokal. Penggunaan material pembuatan kerajinan batik menggunakan bahan alami masih belum dilirik pengrajin batik.

“Mungkin (batik mengangkat kearifan lokal) ini yang seharusnya menjadi tantangan pemerintah kita, khususnya Jawa Barat. Dimana daerah-daerah sentra batik di tanah air ini berlomba mengangkat kearifan lokal dengan motif etnik, justru di Jawa Barat sendiri lebih banyak menciptakan motif lain,” ujar Diyanto, kurator seni rupa Taman Budaya Jawa Barat disela kegiatan Workshop Batik Gutha Tamarin dalam rangkaian Pameran seni rupa ‘Re-BUNG’ sebagai langkah strategis dalam menjaga benang merah kelangsungan acara Biennale Jawa Barat (BIJABA) #2 yang akan dilaksanakan tahun 2021, bertempat di Thee Huis Gallery Taman Budaya Jawa Barat.

Dikatakan Diyanto, sebagai warisan budaya masa lalu yang masih tetap eksis hingga kini, batik dapat memberikan beragam nilai, baik nilai fungsional, dan nilai budaya. Bahkan pada kehidupan masyarakat yang mengalami tantangan globalisasi, batik semakin memiliki nilai ekonomi.

Baca Juga: Abrasi Nilai Kasundaan Tengah Terjadi

Baca Juga: Kedatangan Vaksin Bertahap

Sejak batik mendapat pengakuan UNESCO satu dekade lalu (2 Oktober 2009), batik  menurut Diyanto, sebagai warisan budaya manusia tak benda milik bangsa Indonesia, menimbulkan berbagai dampak positif bagi eksistensi batik. 

“Tumbuhnya peluang baru bagi usaha batik di bidang industri kerajinan batik di berbagai daerah dengan mengangkat kearifan lokal yang berasal dari etnik yang ada di Indonesia dalam bentuk motif telah mengangkat batik sebagai seni batik yang indah, unik, dan memiliki makna dan nilai filosofi bernilai tinggi hingga banyak diburu kolektor,” ujar Diyanto yang juga satf pengajar di sejumlah perguruan tinggi di Kota Bandung.

Sementara perupa Niken Apriani yang menjadi pemateri kegiatan mengunkapkan proses pembuatan batik dengan penggunaan githa tamarin  belum begitu dikenal. “Padahal gutha tamarin adalah bahan subtitusi malam atau lilin yang umumnya digunakan dalam proses membatik, yang tiada lain adalah serbuk (ekstrak) biji asam untuk mengganti peran lilin atau malam yang berfungsi sebagai perintang,” ujar Niken.

Baca Juga: Saat Ini, Lakukan 3M, 3T, dan Vaksinasi

Baca Juga: Musda MUI, ‘Mempererat Ukhuwah Islamiyah dan Mempererat Islam Wasilah’

Diungkapkan Niken, teknik gutha tamarin merupakan pengembangan teknik membatik tradisional yang kerap disebut sebagai  batik dingin. Karena tidak membutuhkan alat pemanas layaknya proses yang biasa ditemukan saat menggunakan malam.

Tahapan proses pembuatannyapun menurut Niken, amat sederhana, dimana biji asam yang diekstrak menjadi bubuk halus itu kemudian dicampur dengan air dan lemak nabati atau mentega hingga membentuk pasta. Pasta biji asam tersebut cukup dimasukan ke dalam plastik segitiga (piping bag) yang dilubangi bagian ujungnya.

“Perupa hanya perlu menggoreskan pasta-pasta tersebut di atas pola yang sudah dibentuk atau langsung menuangkan imajinasi begitu saja. Maka, membatik dengan teknik yang satu ini juga tak memerlukan canting dalam menciptakan outline atau garis pembentuk gambaran, serta teknik gutha tamarin penggunaannya tidak terbatas pada jenis kain tertentu dengan pewarna dapat disesuaikan bertdasar karakter kain yang digunakan,” pungkas  Niken.(heriyanto)***

Editor: Heriyanto Retno


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah